By: Aristyana Dewi
Hidup ini bukan pilihan, tetapi memang
harus dijalani. Yang dapat dijadikan pilihan adalah cara untuk menjalani
kehidupan ini. Tak jarang saya mendengar manusia-manusia yang mengeluh akan
sulitnya hidup. Apa yang mereka keluhkan?? Banyak dari mereka mengeluh akan
masalah ekonomi, ya… masalah keuangan. Jika sudah berbicara masalah keuangan,
tentu erat kaitannya dengan masalah pekerjaan. Investasi pendidikan menjadi
pilihan bagi mayoritas masyarakat dengan tujuan mendapat pekerjaan yang baik
agar kehidupannya layak dan sejahtera.
Para pemuda boleh merasa bangga saat
mereka berhasil merampungkan study-nya
di universitas, namun jangan sampai terhanyut dengan rasa itu, karena
perjuangan yang sesungguhnya adalah saat kita dituntut untuk dapat menghasilkan
nilai lebih dari investasi tersebut di dunia kerja. Sebelum terjun ke dunia
kerja, Anda harus menentukan terlebih dahulu aliran yang cocok bagi diri Anda
pribadi. Job seeker or job creator??
Job
seeker itu apa?? Job
adalah pekerjaan dan seeker adalah
pencari, berarti job seeker adalah pencari pekerjaan. Apakah job seeker dapat diartikan
“Pengangguran”?? ya bisa jadi, tetapi menurut saya mereka adalah pengangguran
terhormat, karena mereka adalah orang-orang yang bersemangat mencari pekerjaan
demi mencukupi kebutuhan hidupnya dan bukan semua job seeker adalah pengangguran, karena banyak orang yang sudah
bekerja tetapi mereka masih mencari-cari pekerjaan lain yang lebih baik. Salah
satu bukti real-nya adalah rekan saya
sendiri, sebut saja dia Muhamad Niky Yusuf. Dia sudah bekerja di suatu
perusahaan besar dan ternama, pekerjaannya pun menurut saya enak dengan gaji
yang di atas rata-rata, namun dia tetap mencari-cari pekerjaan di perusahaan
lain dengan harapan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Ketika kita memilih menjadi seorang job seeker, ada dua kemungkinan yang
terjadi yaitu bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari atau
bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tidak ada
masalah untuk kedua pilihan tersebut, asalkan kita dapat menjalaninya dengan
senang hati In Syaa Allah hasilnya pun akan baik. Mungkin perbedaannya jika
mendapatkan pekerjaan yang linear dengan
ilmu yang telah dipelajari semasa sekolah ataupun kuliah akan lebih memudahkan kita
dalam bekerja, karena telah memiliki dasarnya dan kita mempunyai kesempatan
untuk mengaplikasikan serta mengembangkan ilmu yang kita miliki secara real. Berbeda cerita jika bekerja di
bidang yang tidak linear dengan ilmu
yang kita kuasai, akan penuh tantangan baru dengan tekanan yang lebih besar
sehingga dalam hal ini kita harus belajar lebih cepat dan dibutuhkan usaha yang
ekstra untuk beradaptasi, tetapi sebenarnya dari sanalah kita mendapatkan
pengalaman dan ilmu baru secara gratis. Kenapa Saya katakan demikian?? Karena
kita mendapatkan pengalaman dan ilmu kemudian di gaji, hehee.
Banyak anggapan yang bermunculan dengan
memandang sebelah mata para job seeker
bahwa seorang job seeker seperti
budak, ya.. karena mereka bekerja dengan aturan yang dibuat oleh atasannya, ada
rasa seperti ditindas, diperas, dan dimanfaatkan sehingga batin mereka pun merasa tertekan, tetapi dari sanalah mereka
akan mendapatkan bekal yang berharga untuk menjalani kehidupan di masa yang
akan datang. Pun saat mereka ingin berhijrah menjadi seorang job creator, mereka sudah memiliki
mental yang lebih strong daripada orang
yang tidak mengalami pahitnya berjuang menjadi seorang job seeker.
Seorang job seeker sibuk berlomba-lomba mencari pekerjaan dan kebahagiaan
yang di dapat sangat bersifat individualisme, sedangkan seorang job
creator yang berarti pencipta pekerjaan terkesan memiliki esensi yang
lebih mulia, karena dapat membuka peluang kerja bagi para pengangguran yang
semakin hari semakin banyak dan rasa bahagia yang timbul tidak hanya dinikmati
oleh job creator, melainkan dapat
dirasakan oleh mereka yang mendapatkan pekerjaan dari seorang job creator. Walaupun demikian, tujuan
keduanya dapat di bilang satu arah, yaitu memenuhi kebutuhan hidup.
Sebenarnya antara job seeker dan job creator
mempunyai hubungan yang berkaitan. Untuk dapat menjadi seorang job creator tidak menutup kemungkinan
kita perlu menjadi seorang job seeker
terlebih dahulu untuk mendapatkan modal usaha tetap dan memperbanyak relasi
agar usaha kita dapat berjalan lancar.
So, janganlah menjadi manusia yang
sombong dengan memandang sebelah mata tentang para job seeker. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dengan kekurangan
dan kelebihan masing-masing.
Mulut boleh berkata apapun yang dia
sukai untuk diinginkannya dan silakan fikiran berfikir apapun yang
diharapkannya. Apapun pilihan Anda, being
a job seeker or being a job creator, jalani dengan niatan mencari ridho
Allah, In Syaa Allah berkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar