Jumat, 19 Desember 2014

JOB SEEKER or JOB CREATOR

By: Aristyana Dewi

Hidup ini bukan pilihan, tetapi memang harus dijalani. Yang dapat dijadikan pilihan adalah cara untuk menjalani kehidupan ini. Tak jarang saya mendengar manusia-manusia yang mengeluh akan sulitnya hidup. Apa yang mereka keluhkan?? Banyak dari mereka mengeluh akan masalah ekonomi, ya… masalah keuangan. Jika sudah berbicara masalah keuangan, tentu erat kaitannya dengan masalah pekerjaan. Investasi pendidikan menjadi pilihan bagi mayoritas masyarakat dengan tujuan mendapat pekerjaan yang baik agar kehidupannya layak dan sejahtera.

Para pemuda boleh merasa bangga saat mereka berhasil merampungkan study-nya di universitas, namun jangan sampai terhanyut dengan rasa itu, karena perjuangan yang sesungguhnya adalah saat kita dituntut untuk dapat menghasilkan nilai lebih dari investasi tersebut di dunia kerja. Sebelum terjun ke dunia kerja, Anda harus menentukan terlebih dahulu aliran yang cocok bagi diri Anda pribadi. Job seeker or job creator??

Job seeker itu apa?? Job adalah pekerjaan dan seeker adalah pencari, berarti job seeker adalah pencari pekerjaan. Apakah job seeker dapat diartikan “Pengangguran”?? ya bisa jadi, tetapi menurut saya mereka adalah pengangguran terhormat, karena mereka adalah orang-orang yang bersemangat mencari pekerjaan demi mencukupi kebutuhan hidupnya dan bukan semua job seeker adalah pengangguran, karena banyak orang yang sudah bekerja tetapi mereka masih mencari-cari pekerjaan lain yang lebih baik. Salah satu bukti real-nya adalah rekan saya sendiri, sebut saja dia Muhamad Niky Yusuf. Dia sudah bekerja di suatu perusahaan besar dan ternama, pekerjaannya pun menurut saya enak dengan gaji yang di atas rata-rata, namun dia tetap mencari-cari pekerjaan di perusahaan lain dengan harapan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Ketika kita memilih menjadi seorang job seeker, ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari atau bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tidak ada masalah untuk kedua pilihan tersebut, asalkan kita dapat menjalaninya dengan senang hati In Syaa Allah hasilnya pun akan baik. Mungkin perbedaannya jika mendapatkan pekerjaan yang linear dengan ilmu yang telah dipelajari semasa sekolah ataupun kuliah akan lebih memudahkan kita dalam bekerja, karena telah memiliki dasarnya dan kita mempunyai kesempatan untuk mengaplikasikan serta mengembangkan ilmu yang kita miliki secara real. Berbeda cerita jika bekerja di bidang yang tidak linear dengan ilmu yang kita kuasai, akan penuh tantangan baru dengan tekanan yang lebih besar sehingga dalam hal ini kita harus belajar lebih cepat dan dibutuhkan usaha yang ekstra untuk beradaptasi, tetapi sebenarnya dari sanalah kita mendapatkan pengalaman dan ilmu baru secara gratis. Kenapa Saya katakan demikian?? Karena kita mendapatkan pengalaman dan ilmu kemudian di gaji, hehee.

Banyak anggapan yang bermunculan dengan memandang sebelah mata para job seeker bahwa seorang job seeker seperti budak, ya.. karena mereka bekerja dengan aturan yang dibuat oleh atasannya, ada rasa seperti ditindas, diperas, dan dimanfaatkan sehingga batin mereka pun  merasa tertekan, tetapi dari sanalah mereka akan mendapatkan bekal yang berharga untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Pun saat mereka ingin berhijrah menjadi seorang job creator, mereka sudah memiliki mental yang lebih strong daripada orang yang tidak mengalami pahitnya berjuang menjadi seorang job seeker.

Seorang job seeker sibuk berlomba-lomba mencari pekerjaan dan kebahagiaan yang di dapat sangat bersifat individualisme, sedangkan seorang job creator yang berarti pencipta pekerjaan terkesan memiliki esensi yang lebih mulia, karena dapat membuka peluang kerja bagi para pengangguran yang semakin hari semakin banyak dan rasa bahagia yang timbul tidak hanya dinikmati oleh job creator, melainkan dapat dirasakan oleh mereka yang mendapatkan pekerjaan dari seorang job creator. Walaupun demikian, tujuan keduanya dapat di bilang satu arah, yaitu memenuhi kebutuhan hidup.

Sebenarnya antara job seeker dan job creator mempunyai hubungan yang berkaitan. Untuk dapat menjadi seorang job creator tidak menutup kemungkinan kita perlu menjadi seorang job seeker terlebih dahulu untuk mendapatkan modal usaha tetap dan memperbanyak relasi agar usaha kita dapat berjalan lancar.

So, janganlah menjadi manusia yang sombong dengan memandang sebelah mata tentang para job seeker. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Mulut boleh berkata apapun yang dia sukai untuk diinginkannya dan silakan fikiran berfikir apapun yang diharapkannya. Apapun pilihan Anda, being a job seeker or being a job creator, jalani dengan niatan mencari ridho Allah, In Syaa Allah berkah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar